Kamis, 10 Februari 2005

Antibiotik dan Kekebalan Tubuh pada Anak

Sumber : Kompas
Minggu, 10 April 2005


ULASAN mengenai perlunya mewaspadai penggunaan antibiotik secara tidak rasional sudah sering dibahas. Akan tetapi, bagaimanapun, "kampanye" memerangi penggunaan antibiotik secara irasional itu masih kalah marak dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Anak-anak termasuk bayi adalah golongan usia yang secara tidak langsung kerap menjadi obyek "ceruk pasar" dari berbagai produk antibiotik yang diresepkan dokter. Hingga hari ini pun sebagian dokter masih kerap menunjukkan sikap ketidaksukaan jika menghadapi pasien cerewet alias kritis. Masih banyak pula pasien-yang notabene konsumen medis-segan banyak bertanya kepada dokter, dan memilih manggut-manggut saja jika diberi obat apa pun oleh dokter.

"Sebenarnya kan lucu jika kita tidak tahu apa sebenarnya yang kita bayar. Terlebih yang kita bayar itu untuk dikonsumsi oleh anak kita yang merupakan amanat Tuhan. Ketidaktahuan ini sering kali dibiarkan oleh kalangan medis, malah kerap dimanfaatkan," ujar dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed, yang aktif mengedukasi para orangtua dalam mengonsumsi produk dan jasa medis, termasuk melalui milis (mailing list).

Seperti dipaparkan Purnamawati, antibiotik berasal dari kata anti dan bios (hidup, kehidupan). Dengan demikian, antibiotik merupakan suatu zat yang bisa membunuh atau melemahkan suatu makhluk hidup, yaitu mikro-organisme (jasad renik) seperti bakteri, parasit, atau jamur. Antibiotik tidak dapat membunuh virus sebab virus memang bukan "barang" hidup. Ia tidak dapat berkembang biak secara mandiri dan membutuhkan materi genetik dari sel pejamu, misalnya sel tubuh manusia, untuk berkembang biak.

Sementara masih kerap terjadi, dokter dengan mudahnya meresepkan antibiotik untuk bayi dan balita yang hanya sakit flu karena virus. Memang gejala yang menyertai flu kadang membuat orangtua panik, seperti demam, batuk, pilek. antibiotik yang dianggap sebagai "obat dewa". Pasien irasional seperti ini seperti menuntut dokter menjadi tukang sihir. Padahal, antibiotik tidak mempercepat, apalagi melumpuhkan, virus flu.

"Orangtua sebagai yang dititipi anak oleh Tuhan harusnya tak segan-segan bertanya sama dokter. Apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik? Bukankah penyebabnya virus? Tanyakan itu kepada dokter," kata Purnamawati tegas. Namun, kadangkala menghadapi orangtua yang bersikap kritis, sebagian dokter beralasan antibiotik harus diberikan mengingat stamina tubuh anak sedang turun karena flu. Jika tidak diberi antibiotik, hal itu akan memberi peluang virus dan kuman lain menyerang.

Mengenai hal itu, Purnamawati menanggapi, "Sejak lahir kita sudah dibekali dengan sistem imunitas yang canggih. Ketika diserang penyakit infeksi, sistem imunitas tubuh terpicu untuk lebih giat lagi. Infeksi karena virus hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh dengan makan baik dan istirahat cukup, serta diberi obat penurun panas jika suhunya di atas 38,5 derajat Celsius. Jadi, bukan diberi antibiotik. Kecuali kalau kita punya gangguan sistem imun seperti terserang HIV. Flu akan sembuh dengan sendirinya, antibiotik hanya memberi efek plasebo (bohongan)."

Hal senada juga secara tegas dikatakan farmakolog Prof dr Iwan Darmansjah, SpFk. "Antibiotik yang diberi tidak seharusnya kepada anak malah merusak sistem kekebalan tubuhnya. Yang terjadi anak malah turun imunitasnya, lalu sakit lagi. Lalu jika dikasih antibiotik lagi, imunitas turun lagi dan sakit lagi. Terus begitu, dan kunjungan ke dokter makin sering karena anak tambah mudah sakit," ujar Iwan.

PURNAMAWATI menggarisbawahi, antibiotik baru dibutuhkan anak ketika terserang infeksi yang disebabkan bakteri. Contoh penyakit akibat infeksi bakteri adalah sebagian infeksi telinga, infeksi sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi kuman streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, tuberkulosis, dan diare akibat amoeba hystolytica. Namun jika antibiotik digunakan untuk infeksi yang nonbakteri, hal itu malah menyebabkan berkembang biaknya bakteri yang resisten.

"Perlu diingat juga, untuk radang tenggorokan pada bayi, penelitian membuktikan 80-90 persen bukan karena infeksi bakteri streptokokus, jadi tidak perlu antibiotik. Radang karena infeksi streptokokus hampir tidak pernah terjadi pada usia di bawah dua tahun, bahkan jarang hingga di bawah empat tahun," kata Purnamawati.

Beberapa keadaan yang perlu diamati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan aluran cerna, seperti diare, mual, muntah, mulas/kolik, ruam kulit, hingga pembengkakan bibir, elopak mata, hingga gangguan napas. "Berbagai penelitian juga menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini akan mencetuskan terjadinya alergi di masa yang akan datang," kata Purnamawati tandas.

Kemungkinan lainnya, gangguan akibat efek samping beberapa jenis antibiotik adalah demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Lalu, kemungkinan kelainan hati, misalnya antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, sulfonamid. Golongan moxycillin clavulinic acid dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis. ementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat enyebabkan gangguan ginjal.

Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri, pastikan dokter meresepkan antibiotik yang hanya bekerja pada bakteri yang dituju, yaitu antibiotik spektrum sempit (narrow spectrum antibiotic). Untuk infeksi bakteri yang ringan, pilihlah yang bekerja terhadap bakteri gram positif, sementara infeksi bakteri yang lebih berat (tifus, pneumonia, apendisitis) pilihlah antibiotik yang juga membunuh bakteri gram negatif. Hindari pemakaian salep antibiotik (kecuali infeksi mata), serta penggunaan lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.

Jika anak terpaksa menjalani suatu operasi, untuk mencegah infeksi sebenarnya antibiotik tidak perlu diberikan dalam jangka waktu lama. "Bahkan pada operasi besar seperti jantung, antibiotik cukup diberikan untuk dua hari saja," ujar Iwan. Purnamawati menganjurkan, para orangtua hendaknya selalu memfotokopi dan mengarsip segala resep obat dari dokter, dan tak ada salahnya mengonsultasikan kepada ahli farmasi sebelum ditebus.

Sejak beberapa tahun terakhir, sudah tidak ditemukan lagi antibiotik baru dan lebih kuat. Sementara kuman terus menjadi semakin canggih dan resisten akibat penggunaan antibiotik yang irasional. Inilah yang akan menjadi masalah besar kesehatan masyarakat. Antibiotik dalam penggunaan yang tepat adalah penyelamat, tetapi jika digunakan tidak tepat dan brutal, ia akan
menjadi bumerang.

"Antibiotik seperti pisau bermata dua. Untuk itu, media massa berperan besar menginformasikan hal ini dan tidak perlu khawatir jika industri farmasi ngambek tak mau beriklan," tutur Iwan. (SF)

Posted by Nana

Rawatlah Gigi Si Kecil Sejak Dini

Setelah gigi susu keluar, perawatannya tak boleh disepelekan. Sebab, pengaruhnya akan sampai ke gigi permanen.

Bakal gigi susu sebenarnya sudah terbentuk sejak bayi masih di kandungan, yaitu sejak janin berusia 4 minggu sampai ia lahir. Bahkan, gigi permanen yang bakal menggantikan gigi susu pun sudah terbentuk.

Gigi tumbuh dari epitel tulang rahang. Mula2 yang tumbuh adalah mahkota gigi berwarna putih dengan lapisan luar emailnya, lalu berlanjut ke bawah berupa dentin, diteruskan dengan benak gigi (pulpa) yang menjadi tempat saraf dan pembuluh darah, serta yang paling akhir ialah akar gigi.

Erupsi atau keluarnya akar gigi pertama biasanya terjadi di usia 6 - 8 bulan setelah kelahiran. Erupsi tak terjadi sekaligus, melainkan satu persatu dan kadang ada juga yang sepasang-sepasang. Umumnya erupsi diawali gigi seri tengah bawah, lalu secara berurutan gigi seri tengah atas, gigi seri lateral (samping) atas dan gigi seri lateral bawah.

Ketika berusia satu tahun, biasanya anak punya 6-8 gigi susu. Namun jangan khawatir jika yang tumbuh baru 2 gigi karena prosesnya masih berlanjut. Kemudian di usia 1-2 tahun muncul 4 gigi geraham atas dan bawah sebelah depan, 4 gigi taring atas dan 4 bawah, serta 4 gigi geraham atas dan bawah sebelah belakang. Jumlah semuanya ada 20 gigi. Pertumbuhan gigi susu akan berhenti di usia 3 tahun. Lantas, satu persatu akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen saat si kecil menginjak usia 5 atau 6 tahun.

MENGAPA GIGINYA BELUM JUGA ERUPSI?
Tak jarang, hingga usia setahun, si kecil belum juga erupsi gigi. Hal ini masih dianggap wajar. Namun bila sampai usia 2 tahun ia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan erupsi gigi, seperti gusi tampak pucat, agak menonjol, dan mucul warna putih di tempat biasa muncul gigi, maka dikatakan terlambat.

Jika memang terlambat, bawa anak ke klinik gigi untuk dilihat apakah benih giginya betul ada atau tidak. Jika ada, rangsang pertumbuhan giginya dengan cara memberi makanan keras seperti wortel, apel atau daging agar ia mau mengunyah. Lebih baik lagi jika dimulai sejak anak diberi makanan padat.

Lain hal jika benih gigi memang absen. Ditunggu sampai kapanpun tak pernah akan terjadi erupsi. Tentunya kelainan ini akan tetap berlanjut sampai dewasa. Walaupun kasus seperti ini jarang, diduga penyebabnya adalah faktor keturunan, bukan kekurangan suatu zat tertentu.

JADI REWEL KALA HENDAK ERUPSI GIGI
Saat gigi susu si kecil muncul, ada tanda-tanda khusus yang perlu diketahui oleh orang tua. Umumnya, bayi lebih rewel karena kemunculan gigi merupakan saat yang tak menyenangkan. Gusi terasa sakit dan gatal, warnanya memerah dan agak bengkak. Pipi bayi juga biasanya berwarna kemerahan. Air liurnya banyak keluar.

Bahkan, pada beberapa bayi muncul demam. Soal demam ini masih diragukan apakah memang disebabkan oleh proses muncul gigi. Kenyataannya, anak di bawah usia satu tahun sering terkena infeksi virus yang mungkin saja berbarengan dengan keluarnya gigi. Jadi, demam itu lebih disebabkan infeksi virusnya.

Yang merepotkan, si kecil biasanya kehilangan nafsu makan saat giginya akan keluar. Maklum, ia merasa tak nyaman akibat rasa gatal di sekitar mulut. Berilah makanan lunak dan agak dingin sementara si kecil mengalami ketidaknyamanan itu.

Untuk mengurangi rasa gatal di gusi, tekan-tekanlah gusinya dari sebelah luar. Gunakan jari-jari tangan secara lembut. Ingat jaga jangan sampai kuku-kuku kita melukai wajah si kecil. Selain itu, beri ia mainan atau buah dan sayuran, seperti apel dan wortel (finger food), untuk digigit-gigit. Jangan lupa, sebelumnya cuci bersih makanan dan mainan yang akan digigit. Gigitan ini dapat mengalihkan rasa gatal di sekitar gigi yang akan muncul. Namun ingat, jangan biarkan si kecil menggigit-gigit jari tangannya, sebab kegiatan ini bisa berkembang menjadi kebiasaan buruk.

PERAWATAN GIGI
Kendati gigi susu akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen, namun perawatannya tetap penting. Perawatan sejak dini bisa menghindarkan si kecil dari kerusakan gigi yang parah. Karena itu, sejak erupsi gigi pertama, orang tua harus membersihkan gigi bayi tiap kali ia habis makan atau menyusu. Meskipun cair, susu bisa menempel pada gigi dan berbahaya bagi kesehatan gigi. Kalau tidak, di usia 1 -2 tahun nanti giginya bisa rusak dan berlubang. Biasakan minum air putih setelah makan dan minum susu.

Sebetulnya, sebelum gigi erupsi pun si bayi sudah bisa diajarkan merawat gigi. Caranya, bersihkan gusi-gusi bayi dengan memakai kain kasa atau kapas yang dibasahi air matang. Cari posisi yang paling enak, yaitu dengan memangku si bayi dan mendekap kepalanya ke dada. Setelah giginya erupsi, gunakan sikat gigi khusus bayi. Sedikitnya dibersihkan sekali sehari tanpa memakai pasta gigi, dengan posisi kepala si bayi di pangkuan ibu.

Setelah anak bisa berjalan barulah diajarkan menyikat gigi sendiri. Awali dengan tanpa pasta. Posisinya, orang tua di belakang anak dan membantu menyikat giginya dari belakang. Gunakan sikat gigi khusus anak sesuai usianya.

Setelah terbiasa, sedikit demi sedikit beri ia pasta gigi yang mengandung fluor namun rasanya tak manis atau pedas. Lakukan 2 kali sehari, sehabis makan pagi dan mau tidur malam. Selain itu, biasakan anak untuk minum air putih dan berkumur seusai makan atau minum susu.

Agar anak terbiasa dan terlatih merawat giginya, kenalkan pula dengan dokter gigi. Idealnya, dimulai sejak anak berusia 2 tahun, kecuali jika ada masalah serius pada usia sebelum itu. Periksakan gigi anak secara rutin ke dokter gigi, min. 6 bulan sekali.

BILA SI KECIL MENGALAMI KERUSAKAN GIGI
Data menunjukkan, 9 dari 10 anak balita menderita kerusakan gigi, dan setiap anak rata-rata menderita 7 lubang dari 20 giginya. Bila kita melihat ada lubang pada gigi si kecil, jangan menunggu lagi, segera bawa ke dokter.
Apalagi, kerusakan pada gigi susu berjalan lebih cepat (progresif) dibanding pada gigi tetap. Tak aneh jika kerusakan pada gigi susu juga mempengaruhi pertumbuhan gigi permanen yang terjadi di usia 5-6 tahun nanti. Gigi tetap jadi rentan dan rapuh.
Kerusakan gigi susu yang juga sering terjadi adalah karies gigi (kerusakan gigi setempat yang dimulai pada permukaan/email gigi). Lubang dan karies gigi timbul antara lain karena perawatan yang tidak tepat dan pengaruh sisa-sisa makanan pada gigi terutama gula dan tepung.
Untuk mencegah karies gigi, hindari memberi susu botol sambil anak tertidur dan jangan tambahkan susu formula. jika tak ditangani dengan perawatan yang benar di rumah maupun di klinik, karies gigi akan menjadi ganas dan menjalar dari email ke dentin sampai pulpa. *************
(As the original article; "Sentuhan Tiga Tahun Pertama, Tumbuh Kembang dan Perawatan Bayi - Batita"; "Rawatlah Gigi Si Kecil Sejak Dini" (page 98-99))

Posted by Anggie

Rabu, 09 Februari 2005

Bilingual Baby

Bringing-up Bilingual Baby
by Dorothy P. Dougherty

Experts believe that exposing your baby to a foreign language, early in life, will actually stimulate his brain development. If you, as an adult, have tried to learn a foreign language, you may have had a difficult time hearing the subtle differences in the pitch, tone, and unfamiliar sounds of the language you were trying to understand and speak. However, soon after birth, babies begin to perceive the differences in the actual sounds that make up words. In fact, researchers have found that four mouth old babies have the remarkable ability to hear the differences between every sound in every language. This is a difficult task for an adult, as many of the worlds 6,000 languages use a different assortment of sounds to build words. However, by the age of ten months, an American baby surrounded by English-speaking adults has learned to tune out the sounds of Russian, for example, and concentrate on, and learn, the syllables and words of the language spoken by the people around him. This is why experts recommend that exposing your baby to a foreign language early in life may make it easier for him to learn the language.

What a wonderful advantage your child will have if he is to learn more then one language. Research has shown that bilingual students have stronger problem solving and analytical skills and may even have higher grade point averages. Some experts believe that when a person is bilingual they may also be more creative as they have more and different ways to express themselves. Socially, if your child is bilingual or multilingual, he will be able to communicate with people form different cultures, which may lead to more extensive job and personal opportunities in the future.

If your child is growing up in a bilingual household, to make learning easier, it is recommended that you expose your child to a consistent pattern. "One Person, One Langauge" is recommended. Each parent should use a different language with the child, or one language is used in the home, and another outside the home. This will enable him to associate each language with different people, places, and situations. It is important to choose a consistent pattern that is easy for your family to adopt.

You do not have to be a native speaker of a foreign language (tapi setahu gue, kalau kita mau ngomong, misal bahasa inggris ke anak, kita mesti yakin kalau bahasa ingris kita beneran bagus, soalnya kalau nggak ntar salah lagi, dan anak kita belajar bahasa yang salah!!!), nor do you have to live in the country where a particular language is spoken, to support your child's foreign language learning. Form a play group with children who speak the foreign language your child is learning. Perhaps you could hire a nanny or arrange a regular baby-sitting arrangements with another mother or father in your neighborhood who speaks the language. Enroll your child in a bilingual pre-school or elementary school. Make arrangements with the foreign language teacher to tape record the lessons presented in your child's classroom. He will be able to practice pronunciation at home and show you what he is learning.

Utilize the large selection of interactive multimedia software programs, games, books, and toys developed by foreign language companies. Learn songs to sing to and with your child and play foreign language tapes in your car. Look for bilingual library books to read to your child which include information about the foreign country's culture.

Watch bilingual children's television shows together. Utilize a dictionary to look up unfamiliar words. If possible, take trips to places where people speak the foreign language or take a tour with foreign tourists.

Although many experts agree it may take longer for a child who is exposed to two, or more, languages at an early age to begin talking, usually by age three, most will learn to use both languages without a lot of effort. When your young child begins to say words and sentences, he may go through a period of mixing the two languages and begin to use vocabulary from both languages in the same sentence. He may also not have equal skills in both languages, as it is common for there to be more understanding than actual use of one language.

In order for your child to become truly bilingual, he will need a lot of stimulation in both languages. He will need to hear songs, stories, and lots of talk in both languages with equal enthusiasm and spontaneity. As with all kinds of learning, it is important that you often show your child that you are interested and consistently support your child's efforts to learn. Relax and have fun helping your young child reach his highest potential.

Dorothy P. Dougherty may be contacted at http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0399527311/ref=ed_oe_p/002-0659993-8001642 [email protected] . Click here to view more of their articles.
Dorothy P. Dougherty, MA, CCC-SLP, is a Speech/Language Pathologist and author of How to Talk to Your Baby: A Guide to Maximizing Your Child's Language And Learning Skills. (Penguin/Putnam, 12/99) For 24 years, Ms. Dougherty has worked with children and adults in school, clinical, and private settings. She obtained her bachelor's degree in Speech Pathology from West Chester University in Pennsylvania in 1978, her master's degree in Speech Pathology from the College of New Jersey in Trenton in 1980, and her Certificate of Clinical Competency from the American Speech-Language-Hearing Association in 1981. In her book, she shows busy parents how to enhance a young child's language skills as they go about daily life activities. How children learn to talk, what to expect at different ages, and brain boosting tips from birth to three years are also included


Posted by Fanny

3 Fondasi Anak Pintar ...

http://www.kompas.com//kesehatan/news/0512/09/124456.htm

Sungguh asyik menyaksikan si Upik dan si Buyung tumbuh.


Sedari masih bayi, ketika ia hanya bisa mengoek, tengkurap, merayap, sampai akhirnya berjalan di atas kaki sendiri. Betapa sehat dan pintarnya! Namun, kenangan manis itu terancam lenyap, jika orangtua tak buru-buru membangun fondasi yang tepat buat anak. Fondasi? Kayak rumah aja!

Memang, sama seperti rumah, anak pun memerlukan fondasi untuk meniti masa depannya. Bahan baku fondasi itu bukan makanan impor berharga mahal. Namun, kepedulian ayah-bunda pada kebutuhan anaknya di usia dini, terutama rentang usia 0 - 3 tahun atau 0 - 5 tahun, saat anak bersiap masuk institusi "sekolah", baik yang namanya Taman Penitipan Anak, Taman Bermain, maupun Taman Kanak-kanak.

Setidaknya, ada tiga fondasi yang harus ditanam, jika ingin anak tetap sehat dan pintar menjelang masuk lembaga pembelajaran formal. Yakni fondasi mental, gizi, dan perencanaan keuangan. Tiga pilar itu dipercaya bakal membawa anak mengalami pengayaan mental sejak awal, tumbuh sehat wal’afiat, serta memiliki akses ke dunia pendidikan sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Please, ini soal serius, dan memang benar-benar serius. Karena kini, sebagian besar fondasi itu, ternyata dibangun orangtua dengan cara yang kurang tepat.

Menjadi diri sendiri

Fondasi ini menjadi penting, kata Hj. Tientje Nurlaila, Direktur Eksekutif Center for Indonesian Child Studies (CEFICS), karena masih banyaknya salah kaprah dipraktikkan orangtua.

"Soal mental, misalnya, justru sebenarnya anak tak perlu persiapan khusus. Biarkan dia masuk usia prasekolah dengan wajar. Yang harus lebih banyak bersiap justru orangtuanya," tegas warga Bogor ini.

Contohnya, saat anak bertemu dan bermain dengan teman sebaya, baik di Taman Penitipan Anak maupun di Taman Bermain, orangtua sering bertindak kelewat protektif. Begitu melihat si anak menangis, naluri icam (ikut campur) mereka langsung terangsang. Tak jarang, sang ibu marah pada teman atau guru yang membiarkan anaknya tersedu-sedan.

Padahal, tangisan anak saat memasuki lingkungan baru, menurut Tientje, itu bagian dari proses sosialiasi yang harus dijalani. Di Taman Bermain dan sejenisnya, proses itu bisa berlangsung antara tiga hari sampai dua minggu. "Kita mengamati saja dari jauh. Jika terjadi sesuatu yang menyimpang, misalnya ia menangis sambil membanting-banting benda yang dipegang, barulah turun tangan," cetus Tientje.

Upaya "membentuk" mental anak, apalagi di usia 0 - 3 tahun, bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Terlalu disiplin dengan selalu memaksa anak mengucapkan kata-kata yang baik-baik, manis, dan sopan di rumah, misalnya, membuat si Buyung atau si Upik kebingungan ketika berhadapan dengan teman-temannya yang berperilaku sebaliknya. Dia seperti kehilangan jati diri. Mana yang harus diikuti, perintah orangtua atau teman-temannya? Berdasarkan pengalaman, anak biasanya lebih suka ikut arus pergaulan.

Sebaliknya, jika sejak awal si anak tidak diperangkap dengan berbagai aturan dan larangan, kelak orangtua akan lebih mudah meluruskan dan memberi pengertian tentang bahaya atau dampak negatif sebuah perbuatan yang dilihat anak di luar rumah. Ia pun tidak dibuat bingung, karena langsung punya pedoman. "Itu sebabnya, saya lebih suka orangtua bertindak sebagai pengamat. Jika ada sesuatu yang kurang beres, barulah turun tangan," tandasnya.

Praktik mendidik dengan lebih banyak memberikan kebebasan dan pilihan pada anak, serta membiarkan anak belajar dari kesalahan, kini banyak dilakukan di negara-negara maju. Model paksaan atau larangan sudah ketinggalan zaman. Apalagi untuk anak usia 0 - 3 tahun, yang tergolong rentang usia sensitif.

"Kemampuan berbahasa mereka baru dalam tahap mendengarkan, tapi belum mengerti apa maknanya," jelas Tientje.

Tiap anak, menurut Tientje, menyimpan sifat gabungan yang berasal dari gen bapak dan ibunya. Kalau orangtua secara genetis mewariskan sifat boros pada anaknya, upaya mengubah anak menjadi superhemat tentu tak segampang membalik punggung tangan. Perempuan murah senyum ini bilang, sifat anak yang dibawa sejak lahir ibarat takdir yang sulit diubah, sedangkan perkembangannya bisa diibaratkan sebagai nasib.

"Orangtua tidak bisa mengubah takdir anak, tapi bisa mengarahkan agar nasibnya lebih baik," imbuh Tientje. Jadi, kalau anak terlanjur mewarisi sifat boros, bapak dan ibunya bertugas mengarahkan agar tingkat keborosan itu tak berkembang menjadi sesuatu yang merugikan nantinya. "Jangan lupa, kita pernah menjadi manusia seusia dia. Tapi dia belum pernah menjadi manusia seusia kita. Jadi, biarkanlah anak menemukan dirinya sendiri," tutup Tientje berfilsafat.

Gemuk belum tentu sehat

Bukan hanya fondasi mental yang dilakoni secara salah kaprah, fondasi gizi pun setali tiga uang.

Sekarang ini, banyak orangtua yang bangga anaknya gemuk. Anak gemuk, lebih tepatnya kegemukan, bahkan dianggap sebagai lambang kemapanan orangtua.

"Padahal, anak gemuk tidak identik dengan anak sehat. Badan gemuk juga tidak otomatis membuat anak lebih pintar," bilang dr. Luciana B. Sutanto, praktisi gizi.

Belakangan, prevalensi (angka kejadian) obesitas anak-anak di Indonesia, seperti juga di negara-negara maju, meningkat tajam. Ciri-ciri anak kegemukan, antara lain wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pendek, dada menggembung dengan payudara membesar. Hati-hati dengan "kelebihan" yang satu ini, karena obesitas pada anak dipercaya dapat memicu penyakit jantung, dilipidemia, hipertensi, dan masih banyak lagi.

Dampak obesitas bisa terjadi dalam hitungan detik alias jangka pendek, tapi dapat juga jangka panjang. Jangka pendek, ketika masuk Taman Bermain Anak contohnya, "si gendut" (begitu biasanya dia dijuluki oleh kawan-kawan "normal"nya) bisa menjadi bahan olok-olokan yang tak kunjung reda. Pada anak, ejekan itu sangat mungkin menumbuhkan rasa rendah diri. Anak gemuk pun kurang bebas beraktivitas, karena lamban dalam bergerak.

Dr. Luciana menyarankan, orangtua sebaiknya tetap berpegang pada aturan gizi seimbang. Selain itu, perhatikan juga takarannya, jangan samakan dengan takaran orang dewasa. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, anak-anak dengan problem kegemukan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah, karena dianggap sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan generasi masa depan.

Alangkah baiknya jika masalah keseimbangan gizi ini sudah diperhatikan, bahkan sejak bayi membutuhkan makanan pendamping air susu ibu (ASI). Dalam sebuah seminar, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH menyatakan, untuk mencegah gangguan dalam tumbuh kembang balita, makanan pendamping itu harus memenuhi beberapa syarat.

Di antaranya padat gizi dan seimbang (kaya energi, cukup protein, perbandingan karbohidrat dan lemak seimbang). Kandungan lemak harus mampu mencukupi kebutuhan asam lemak jenuh dan tidak jenuh, cukup vitamin dan mineral, serta batasi kandungan serat kasar. Gula dan garam diberikan secukupnya untuk memberi rasa. Di samping itu makanan pendamping juga harus aman dikonsumsi, bebas dari gangguan organisme patogen (penyebab penyakit), racun, dan bahan berbahaya lainnya.

Ahli pangan IPB, Dr. Ir. Sugiyono, M.App.Sc. mengamini, makanan pendamping ASI mesti memenuhi kebutuhan energi dan gizi bayi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ia juga menyitir Codex Alimentarius Commission, yang pada 1991 mensyaratkan kandungan energi minimum 400 kkal/10 g, protein 15 gram/100 g, lemak 10 - 25 g/100 g, asam linoleat 1,4 g/100 g, serat kasar maksimum 5 g/100 g.

Dr. Luciana menambahkan, setelah agak besar, sebaiknya anak juga dilatih dengan beragam kebiasaan makan yang baik, seperti membiasakan diri sarapan. Jika terbiasa sarapan, saat mulai masuk sekolah kelak, anak tak akan kaget lagi makan-minum di pagi hari. Selain itu sarapan penting untuk memberi energi, agar anak tetap sehat dan bersemangat, apa pun aktivitas yang dilakukannya di pagi dan siang hari.

Empat Garis Besar

Jika fondasi mental dan gizi tak lagi disalahkaprahi, perencanaan keuangan harus dicermati untuk menjamin masa depan pendidikan anak.

Ketika usia anak makin bertambah, bekal perilaku terpuji dan badan sehat saja tentu belum mencukupi. Kelak anak harus dibekali dengan pendidikan prasekolah dan sekolah beneran (SD, SMP, SMA, dan seterusnya).

Idealnya. persiapan dilakukan orangtua jauh sebelum saat bersekolah tiba. Kalau perlu, sejak buah hati lahir. Seperti dilansir perencana keuangan Harris P. Marpaung, dengan semakin mahalnya biaya pendidikan, perhatian orangtua memang harus ekstra.

Secara garis besar, ada empat hal pokok yang harus dilakukan orangtua dalam mempersiapkan masa depan anak. Mula-mula, rencanakan segala sesuatunya sejak awal, misalnya prasekolah atau sekolah apa yang ingin dituju. Setelah itu, sebaiknya alokasikan duit sejak dini, agar tak kepepet di kemudian hari.

Kemudian lakukan sesuatu untuk menjamin agar dana pendidikan itu selalu tersedia (siap digunakan pada saat dibutuhkan). Misalnya, dengan melipatgandakan duit di areal perbankan, bisa dengan memasukkannya ke rekening tabungan (dan berharap dari bunganya) atau mengandalkan deposito. Bisa juga memutar uang di jalur reksadana dan asuransi pendidikan. Pola lama, seperti menyimpan duit di bawah kasur atau di laci lemari, sebaiknya ditinggalkan.

Terakhir, masih menurut Harris, orangtua harus disiplin dalam menjalankan semua rencana. Kalau dijalankan dengan konsisten, si kecil tak hanya akan menikmati masa-masa indah di usia dini, tapi juga jaminan bahwa masa-masa indah itu tak akan pudar seiring berjalannya waktu, masa ketika ia menjalani hidup dengan pintar (menjadi diri sendiri, bugar, dan berpikir jauh ke depan).

Ya, seperti rumah, si Upik dan si Buyung memang butuh pijakan kuat untuk melangkah ke depan.*

Sumber: Kompas.com

Posted by Sheila

Menambah Nafsu Makan Pada Balita/Anak

oleh: Noviana Yaniar

Nafsu makan anak-anak berkurang disebabkan oleh beberapa hal:

· Kurangnya variasi makanan yang diolah.
Hal ini bisa ditanggulangi dengan:

mencoba dengan bahan yang sama tetapi dengan resep yang berbeda, misalnya jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan seperti kue jagung, jenang jagung dan lain sebagainya.

Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama misalnya dari ketela pohon direbus kemudian dihaluskan,kemudian dikepal, di dalamnya diberi gula merah, dicelupkan dalam adukan 1 butir telor lalu digoreng, atau wortel (tambahkan daging bila ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan tambahkan kecap sedikit, gula dan garam secukupnya.

Tetap diusahakan agar anak selalu makan (makanan utama) 3 kali sehari agar nutrisi yang masuk dalam tubuh anak terjaga, perlu diberitahukan pada pembantu rumah tangga yang menyuapi si anak agar sabar dan telaten.

Menambah multivitamin yang sesuai dengan kondisi dan umur anak misalnya selain ASI ditambah dengan susu yang dibutuhkan tubuh si anak (bisa melalui konsultasi gizi dengan dokter si anak).

· Masa peralihan pemberian makanan lunak ke padat (umur 2 tahun keatas).
Hal ini bisa diatasi dengan ramuan:

sesendok makan air jeruk nipis diberi gula secukupnya, diminum 2x sehari sesudah makan.

Sehelai daun pepaya segar dicuci lalu dilumatkan dengan sedikit garam dan diberi air matang sedikit demi sedikit kira-kira 1/4 gelas , peras airnya kemudian diminum sekaligus.

· Sakit perut semacam sakit perut biasa, mencret/diare, cacingan, dll.
CACINGAN:

250 g mentimun dan 500 g tahu di buat sop.

Segenggam daun pare segar diseduh dengan 1/4 gelas air lalu disaring dan diberi 1 sendok teh madu kemudian diminum sebelum sarapan.

5 wortel yang sudah dikeringkan ditumbuk/parut sampai menjadi bubuk, seduh dengan air secukupnya, minum 2x sehari, 5 g setiap kali minum.

Bila cacingan kremi: 3 siung bawang putih dikupas, dicuci, kunyah sampai halus, telan dan minum air hangat, lakukan 1-2x sehari atau dengan resep : 1/4 kelapa hijau dan 1 wortel diparut, campur kedua bahan ini dengan bahan segelas air, peras dan saring, dan diminum malam hari sebelum tidur.

Bila cacingan gelang : 60 g jahe segar dicuci lalu dilumatkan dan diberi segelas air, lalu disaring dan diberi 1 sendok makan madu, dan diminum 3x sehari atau dengan resep : 2 sendok biji pepaya dilumatkan lalu diseduh dengan 1/2 gelas air panas, lalu ditambahkan 1 sendok makan madu dan diminum selagi hangat 1x sehari.

Sumber :
· Dinas Kesehatan Unit Materia Medica. Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga. Malang, 1993.
· INTISARI. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta, 1998


Posted by Swasti Andriana

Selasa, 08 Februari 2005

Diapers, Biang Keladi Ruam Popok?

Seperti makanan, popok salah satu kebutuhan utama bayi. Agar praktis,banyak ibu memilih diapers (popok sekali pakai). Apa benar diapers biangkeladi ruam popok?

Masih ada orangtua yang was-was memakaikan bayinya popok sekali pakaiatau diapers. Karena, banyak kasus ruam popok terjadi setelah bayimenggunakan popok yang terbuat dari kertas ini. Padahal,dari sisikepraktisan, mengenakan diapers praktis dan menyenangkan. Dengan diapers,bayi tidak perlu sering berganti popok yang basah akibat buang air. Ini baikuntuk ketenangan tidurnya. Selain itu, membuat rumah lebih bersih karenatidak terkena ompol bayi. Diapers juga membuat kerja ibu atau pengasuh lebihringan karena tidak perlu mencuci, menjemur dan menyetrika setumpuk popok.

Tetapi, ya itu tadi. Kalau diapers sudah menimbulkan ruam popok, lainlagi kerepotannya. Ruam atau eksim popok, menurut Dr. Siti Aisah Boediarjo,Sp.KK, adalah kelainan kulit berupa bercak kemerahan meradang. Kadangdisertai kulit yang keras bersisik, berbintil, bahkan melepuh dan lecet,yang menimbulkan gatal dan perih pada bayi. Bila dipegang, bagian gatal danperih ini terasa lebih panas dari daerah sekitarnya. "Ruam popok biasanyaterdapat di daerah yang tertutup popok, yaitu paha, pangkal paha bagiandalam, pantat, dubur dan sekitar kemaluan," ujar spesialisdermatovenereologist dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, ini.

Menurut Aisah, bayi yang terkena ruam popok bisa menjadi rewel luarbiasa akibat gatal dan perih yang dirasakan. Selain itu, ia pun menjadilebih sensitif dan tidak dapat tidur nyenyak sehingga kurang istirahat.

Bukan Diapers, Tetapi Perawatan Kulitnya

Apa benar ruam popok diakibatkan diapers? Menurut Aisah, yang perludiketahui orangtua adalah kulit bayi sangat lembut dan peka. Sebab itu, bilahampir setiap saat kulit bayi terkontak atau terpapar benda asing sepertikeringat, air kencing, atau permukaan kain yang kasar, mudah terjadigangguan ringan yang bisa membuat kulit kemerahan. "Ruam bisa timbul karenakulit bayi peka terhadap zat amoniak yang terkandung dalam air kencing,"ujar Aisah.

Dia melanjutkan, faktor lain yang mempermudah timbulnya ruam popokadalah perawatan kulit yang kurang baik. Misal, sering menggosok daerahpopok dengan kain bertekstur kasar atau tebal (seperti, handuk), jarangmengganti popok yang sudah basah, pemakaian popok yang lembab atau tidakkering betul oleh panas matahari, dan pemakaian popok yang terlalu ketat.

Nah, jika dihubungkan dengan pemakaian diapers, sebetulnya bukan SiPopok Sekali Pakai yang murni pencetus ruam popok. Tetapi, perawatan saatmemakainya. Misal, diapers terlalu lama dipakai sehingga air seni "menumpuk"dan terkontak dengan kulit bayi. Atau, kualitas diapers kurang baik, dimanaair seni tidak terserap sempurna sehingga membasahi permukaan diapers."Diapers umumnya juga mempunyai lubang di pergelangan paha yang terbuat dariplastik, berkerut dan berumbai. Ini sering menggesek paha dalam sehinggadapat menimbulkan lecet."

Selain itu, tambah Aisah, ada juga bayi yang alergi terhadap bahandasar diapers. Dan, ada juga ruam popok yang terjadi karena ibu terlaluketat memasangkan diapers. Aisah juga sering mendapati ibu atau pengasuhyang taken for granteed (kelewat percaya) diapers, sehingga tidak mencek"isi"-nya sampai berjam-jam. Padahal, mungkin saja saat baru dipasangkandiapers, bayi buang air besar. Satu lagi, ada juga kasus ruam popok akibatkurang cermat membersihkan feses (kotoran) bayi, sehingga di sekitar kelaminmasih terdapat sisa feses saat dipasangkan popok baru. "Ini sering terjadisaat bayi diare. Karena sisa feses mengandung bakteri, maka begitu kontakdengan kulit, melukai kulit dan menyebabkan ruam," jelas Aisah.

Jadi, sebenarnya bukan murni diapers biang keladi ruam popok. Tetapi,perawatan bayi saat memakainyalah yang lebih punya andil. "Karena, kalauperawatan kurang baik, apa pun jenis popoknya, bayi bisa kena ruam. Memakaipopok atau celana kain biasa pun bisa kena ruam, kalau cara memakainya tidakbetul. Seperti, lama atau jarang diganti, popok diikat terlalu kencangsehingga tidak ada sirkulasi udara, dan popok lembab," tutur Aisah.

Dia menganjurkan, jika sudah terjadi ruam popok, lakukan perawatanuntuk mengatasinya. Misal, mengolesi kulit bayi dengan krim anti-ruam yangmengandung Dekspanthenol 5% yang bisa mempercepat pembaharuan sel kulitsecara alami dari dalam, sekaligus melapisi kulit agar ruam tidak datanglagi. Atau, Ada dengan krim anti-ruam yang mengandung zinc (mineral seng)yang dapat membantu mencegah dan menyembuhkan iritasi atau kemerahan akibatruam. Upaya ini, tentu harus disertai koreksi cara penggunaan diapers yangtelanjur salah. Atau mungkin mengganti jenis dan merek diapers.

Pilih-pilih Diapers

Mengapa ada bayi yang alergi bahan dasar diapers? Sebetulnya, apa yangterkandung di dalam popok sekali pakai? Saat ini, jenis dan kandungandiapers semakin beragam. Padahal, tidak semua ibu memahami fungsi jenis dankandungan diapers tersebut bagi bayinya.

Diapers, umumnya berbahan dasar bubur kertas atau pulp, kain kasatipis, juga kain flanel. Biasanya mempunyai lapisan bahan berdaya seraptinggi. Sehingga, mampu menyerap cairan hingga 80-100 kali beratnya sendiri.Atau, kira-kira bisa digunakan untuk menampung jumlah air seni bayi sebanyak5-8 kali pipis. Lapisan terluar terbuat dari plastik kedap air. Ini agarkotoran bayi tidak tercecer kemana-mana. Sedangkan sejumlah merek saat inikandungannya diperkaya dengan moistruiser (pelembab) dan aloe vera (lidahbuaya) untuk melembutkan. Sejumlah diapers disertai pengharum ringan. Bagianpinggang dan kaki biasanya elastis dengan strip cadangan untuk mencegahkebocoran saat bayi dalam posisi berbaring.

Meski kebanyakan diapers dibuat dari bahan yang sudah disesuaikandengan kelembutan kulit bayi, ada juga bayi yang tetap tidak tahan diapers,sehingga alergi terhadap bahan dasarnya. Apa boleh buat, setiap bayi memangmempunyai kepekaan sendiri-sendiri. Kalau memang ia tidak tahan merekdiapers tertentu, mungkin ibu harus segera mengganti merek dengan yang lebihlembut, atau yang ditujukan bagi kulit super sensitif. Menurut Aisah,"Jangan membiarkan penggunaan diapers yang menimbulkan alergi, karena, akanmerusak permukaan kulit bayi. Dan, kulit yang rusak sangat mudah terinfeksikuman sehingga menyebabkan ketahanan tubuh anak menurun. Infeksi pun bisamenyebar ke wilayah kulit lain di sekitar kelamin, bahkan menyerang organkelamin itu sediri, sehingga mencetus masalah lebih serius."

Selain itu, ada pula bayi yang tidak cocok mengenakan satu merekdiapers karena mudah terjadi kebocoran. Ini, lebih disebabkan anatomidiapers yang kurang cocok bagi anatomi bayi. Atau, karena bayi terlalubanyak bergerak. "Karena sangat individual sifatnya, adakalanya diapers yangcocok bagi seorang bayi, tidak cocok bagi bayi lain. Jadi memang"cocok-cocokan". Cermati saja kondisi Si kecil dengan diapersnya sendiri,"ujar Aisah. Menurutnya, merek, harga, dan cara penjualan diapers (misal,diapers generik) bukanlah faktor penentu cocok-tidaknya diapers bagi seorangbayi.

Sehat dengan Diapers
1.. Sebelum mengganti atau menggunakan diaper, pastikan tangan Andabersih.

2.. Bersihkan area popok bayi; lipatan paha, paha atas, anus dankelamin. Gunakan lap basah untuk membersihkan. Dan, lap kering untukmengeringkan sebelum dipakaikan diapers kembali.

3.. Agar bayi tidak terkena iritasi, oleskan baby oil atau krimkhusus pada area popok

4.. Pakaikan diapers sesuai ukuran. Jangan memberikan diapersterlalu besar atau kecil.

5.. Perhatikan cara penggunaannya. Pemakaian diaper yang benar akanmemberi kenyamanan bagi bayi.

6.. Sebaiknya seringlah mengganti diaper kalau memang sudah kotoratau "penuh". Frekuensi penggantian sangat tergantung frekuensi buang airkecil atau buang air besar bayi. Jangan tunggu sampai diaper tercium bauamoniak, karena inilah yang bisa mengakibatkan kuman mengiritasi kulit.

7.. Saat mengganti diapers, ulangi proses pembersihan sepertidisebut di atas. Setelah itu, biarkan bayi tanpa diapers sebentar, agarkulitnya "bernafas".

Posted by Rarry

Senin, 07 Februari 2005

BAYI TAK BUTUH 'KEHANGATAN' BERLEBIHAN

dr. H. M. Hadat, Sp.A

Niat mulia tak selamanya berbuah positif. Memberikehangatan yang berlebihan pada bayi, mis., bisa jadibumerang. Selama ini orang tua begitu takut bayinyakedinginan, sehingga merasa perlu mempersenjataiputra-putri tersayang dengan baju hangat, selimut,topi, sarung tangan, sampai kaus kaki tebal. Bahkanada orang tua yang sampai menutup rapat-rapat pintu,jendela, lubang angin, melarang pemakaian kipas angin,mematikan AC hanya agar bayinya selamat dari bahaya'masuk angin'.

Tak ketinggalan, kebiasaan membaluri minyak telon atauminyak kayu putih di tubuh bayi. Padahal di sampingbikin kepanasan, minyak-minyak itu juga bisa mengubahkulit bayi menjadi kehitaman dan hangus. Pendek kata,banyak orang tua tak sadar, kepungan 'sarana danprasarana penghangat' justru menjadi penyebab bayimenangis lantaran kegerahan.

Gerah membuat bayi banyak mengeluarkan keringat,sehingga kehilangan banyak air dengan garam-garamnya. Alhasil, dia jadi gampang haus, badan lemah sehinggamudah terkena batuk-pilek. Jadi banyak orang tuaselama ini memperlakukan bayinya secara salah aliassalah kaprah. Begitulah kira-kira. Mengapa? Karenabayi punya jaringan asam cokelat!

Begini penjelasannya:Setiap manusia butuh energi untuk melakukan beragamaktivitas. Energi itu datang dari hasil pembakarangula, lemak, maupun protein. Kelebihan gula dalamdarah, mis., diubah oleh hormon insulin menjadiglikogen, sehingga kadar gula darah tetap dalambatas-batas normal. Glikogen ini menjadi cadanganenergi yang terutama disimpan di dalam otot, jantung,dan hati. Cadangan energi glikogen hanya cukup untukmemenuhi kebutuhan energi tubuh selama 24 jam. Halini berbeda dengan cadangan energi dari lemak yangdapat memenuhi kebutuhan energi tubuh selama beberapapekan. Karena tidak larut dalam air, pembakaran lemakjadi lebih stabil dan lebih dapat diandalkan ketimbangpembakaran gula yang larut dalam air. Itu sebabnya,jika ada beban pekerjaan nan berat, jantung dan ototlebih banyak memakai energi dari lemak.

Selanjutnya, kelebihan lemak dalam darah akan disimpandi jaringan lemak. Jaringan lemak sendiri ada 2macam. Pertama, jaringan lemak putih yang menyimpanlemak dalam selnya, dan tersebar di seluruh tubuh,terutama rongga perut dan jaringan di bawah kulit. Kedua, jaringan lemak cokelat, terutama terdapat padabayi yang lahir cukup bulannya dan terbatas ada dijaringan bawah kulit leher dan punggung.

Jaringan lemak cokelat ini makin berkurang danmenyusut pada anak yang lebih besar dan hanyatertinggal sedikit pada orang dewasa. Dia bisamembuang kelebihan energi, mis., akibat makanberlebihan, dengan membakarnya menjadi panas. Keistimewaan lain, selnya dapat menyimpan sampai 40%lemak bayi. Kenaikan suhu tubuh oleh jaringan inibisa mencapai tiga kali lipat ketimbang kenaikan suhuyang disebabkan aktivitas olahraga.

Jelas sudah, dengan bekal jaringan lemak cokelatnya,bayi tidak mudah kedinginan. Sebaliknya, mudahkepanasan. Dibandingkan dengan orang dewasa muda,daya tahan bayi terhadap udara dingin lebih tinggisekitar 50 der.C. Jadi, jika orang dewasa sudahmenggigil pada suhu 20 der.C, bayi tidak merasakan halyang sama. Buat bayi suhu 20 der.C setara dengan 25der.C. Sebaliknya, suhu 25 der.C yang cukup dinginbuat orang dewasa bisa bikin bayi kegerahan. Sebab,25 der.C - nya orang dewasa sama dengan 30 der.C - nyabayi.

Itu sebabnya, meski berada di ruang ber-AC, bayi belumtentu kedinginan. Juga tak perlu dipanasi denganminyak telon atau minyak kayu putih. Susu pun tidakperlu selalu dicampur dengan air hangat. Bayi berumurbeberapa bulan bahkan lebih suka susunya didinginkandi lemari es. Kalau boleh memilih, bayi pasti lebihsuka mandi dengan air dingin, apalagi kalau udarasedang panas. Kesimpulannya, jangan membandingkankondisi bayi dengan kita, orang dewasa!

Posted by Rarry

Si Kecil Belum Bisa Berjalan?

Tak usah cemas, sebab tiap anak punya ciri khas dan kelebihannya masing-masing.

Pada dasarnya, terlambat berjalan tergantung faktor kematangan fisik dan psikologis anak. Faktor fisik, misal, apakah otot kakinya sudah matang atau belum. Bila sudah matang, dengan sendirinya ia dapat berjalan. Tapi bila ada kelainan fisik misal ototnya lemah atau cacat, praktis ia terlambat berjalan.

Ada tidak kelainan fisik diketahui dari pemeriksaan dokter. Bila tidak ada dan sudah matang, harus dilihat pula kematangan psikologisnya, apakah ada kesiapan diri. Misal, tampak keinginannya untuk berjalan dituntun. Sebab, meski kakinya sudah kuat tapi bila ia belum mau berjalan, takkan terdorong untuk berjalan.

Faktor psikologis lain : pola asuh. Orang tua yang cemas akan berusaha merangsang anaknya agar bisa cepat jalan, entah dengan memberikan baby walker atau sepatu berbunyi. Padahal, bila ia belum siap, biar dipaksa kayak apa pun, ia takkan mau jalan.

Sebaliknya, bila orang tua selalu menggendong anak, juga membuatnya terlambat berjalan, sebab, ia jadi keenakan dan malas berjalan karena tak dirangsang menggunakan kakinya.

Sebenarnya, kemampuan berjalan tak perlu dilatih, karena akan muncul sendiri. Yang penting, beri perangsangan dengan makanan bergizi yang bisa menguatkan tulang dan otot kaki, rangsang ia menggerakkan badannya agar seluruh ototnya jadi bagus. Bila secara fisik belum terlalu siap dan ia pun tak menunjukkan keinginan untuk berjalan, tak usah dipaksa. Namun, tetap rangsanglah si kecil agar mau mencoba belajar berjalan. Nanti bila sudah terlihat ada keinginannya untuk berjalan dan ototnya sudah kuat, barulah kita mulai melatihnya. ************
(Nakita, Sentuhan Tiga Tahun Pertama, Tumbuh Kembang dan Perawatan Bayi – Batita, Artikel : Si Kecil Belum Bisa Berjalan?; 35, 2002)

Metode belajar sambil bermain untuk merangsang kemampuan si kecil berjalan

Perlihatkan mainan menarik waktu ia berdiri agar mau melangkah ke arah mainan itu. Bantu ia berjalan dengan berpegangan pada kursi-meja yang kokoh. Mula-mula sambil dipegangi dengan dua tangan kita, lalu dengan satu tangan saja. Lepaskan pegangan kita bila ia kelihatan sudah mulai terampil, hingga ia pun punya kesempatan untuk belajar melangkah sendiri tanpa bantuan. Tentu harus dengan pengawasan kita. Mulanya mungkin ia hanya bisa berjalan 1 – 2 langkah saja. Selanjutnya ia akan mampu melangkah sendiri tanpa bantuan.

Sebagian besar bayi belum mulai berjalan di ulang tahun pertamanya. Merujuk data penelitian, usia rata-rata mulai berjalan seorang anak ialah 13 – 15 bulan. Hanya 25 – 30 % yang mampu berjalan sebelum usia 12 bulan.

(Nakita, Sentuhan Tiga Tahun Pertama, Tumbuh Kembang dan Perawatan Bayi – Batita, Artikel : Kenapa Bayi Kami belum juga merangkak?; 34, 2002)

Lebih Dulu Berjalan atau Bicara ?

Berbicara atau berjalan merupakan dua hal penting dalam perkembangan anak yang biasanya dikuasai si kecil satu persatu. Bila anak Anda mulai belajar berjalan, ia seolah-olah menunda dahulu pelajaran bicaranya untuk sementara waktu. Ia begitu asyik bereksplorasi serta melakukan aktivitas-aktivitas lain yang lebih menarik. Tetapi, setelah terampil berjalan, ia akan mengejar ketinggalannya untuk menambah perbendaharaan kata-katanya yang selama ini tertunda.

Ada pula anak yang mendahulukan belajar bicara ketimbang berjalan. Dan hanya sebagian kecil saja yang mampu menguasai kedua keterampilan ini dalam waktu hampir bersamaan. Umumnya anak-anak menunda belajar berbicara sampai usia 18 bulan – 2 tahun.

(Ayah Bunda, 24 Bulan Pertama dalam Kehidupan Anak)

TONGGAK PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR

v Usia 12 bulan : Bisa berdiri selama 2 detik, bangkit untuk duduk
dan berdiri
v Usia 14 bulan : Mampu berdiri sendiri, normalnya juga bisa berjalan
v Usia 15 – 16 bln : Jika belum bisa berdiri kembali dari posisi
membungkuk dan belum bisa berjalan dengan baik, dianggap terlambat. Beberapa anak usia ini malah bisa berjalan mundur, berlari dan naik tangga. Bahkan ada yang bisa menendang bola di usia 15 bulan
v Usia 17-18 bln : Harus bisa berjalan dengan baik dan berjalan
mundur. Jika sampai usia 18 bulan belum bisa berlari, berarti terlambat
v Usia 19 bulan : Kemampuannya masih mirip usia 18 bulan
v Usia 20 bulan : 95% anak mampu berlari dan berjalan menaiki
tangga. Mereka yang belum mampu, umumnya terkait dengan pola asuh yang overprotective. Misal, karena bentuk tangga yang curam, kita melarang anak naik-turun tangga.
v Usia 21 bulan : Dinyatakan terlambat jika belum dapat lari, berjalan
dengan baik dan berjalan mundur
v Usia 22 – 24 bln : Tak beda jauh dengan sebelumnya, kecuali dalam
hal naik tangga harus sudah mampu. Juga, patut diwaspadai bila, terutama anak lelaki, belum bisa menendang bola
v Usia 24-30 bln : Harus bisa menendang bola ke depan, naik tangga
dan berlari. Kita perlu waspada bila ia belum bisa melompat ke atas dan melempar bola (overhead). Beberapa anak malah bisa melompat lebar dan berdiri di atas satu kaki selama sedetik.
v Usia 33 bulan : Dianggap terlambat jika belum mencapai
kemampuan di usia sebelumnya, kecuali bila ia belum mampu melompat lebar dan berdiri di atas satu kaki selama 3 detik masih dianggap normal.
v Usia 36 bulan : Hampir sama dengan perkembangan sebelumnya,
hanya hati2 bila ia belum bisa berdiri di atas satu kaki selama 1 detik.

(Nakita, Sentuhan Tiga Tahun Pertama, Tumbuh Kembang dan Perawatan Bayi – Batita, Artikel : Si Kecil Belum Bisa Berjalan?; 35, 2002)

Posted by Anggie

Minggu, 06 Februari 2005

Camilan sehat Buat Si Kecil

Banyak di antara kita sering memberi snack instant dalam kemasan pada si kecil sebagai makanan selingan. Padahal, ada banyak camilan lain yang lebih bergizi buat si kecil. Silahkan simak panduannya di sini!

Konon, si balita bisa diibaratkan seperti mobil balap: kecil, bergerak dengan cepat dan harus sering mengisi bensin. Diumpamakan seperti itu karena lambung anak balita relatif kecil hingga jumlah makanan dan zat gizi yang diperoleh dari tiga waktu makan utama dalam sehari relatif sedikit. Lalu bagaimana agar mereka mendapatkan semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan? Mereka memerlukan makanan selingan/camilan yang diberikan beberapa kali sehari. Lewat pemberian camilan yang terencana, si kecil pun mendapatkan zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh dengan baik.

Karena camilan diperlukan untuk melengkapi zat gizi, Anda sebagai ibu harus jeli betul memilih camilan yang sehat, namun tetap disukai anak-anak. Usahakan camilan si kecil mengandung setidaknya dua dari empat kelompok makanan ini: buah dan sayuran, biji-bijian, susu dan produk susu, serta daging atau penggantinya. Berikut beberapa alternatif camilan bergizi yang bisa Anda pilihkan untuk si balita:

• Biskuit crackers diolesi dengan keju krim/selai kacang/ tuna spread.
• Telur rebus
• Omelet keju
• Roti panggang keju
• Wafel dengan saus stroberi
• Pancake dengan saus apel
• Sereal dengan susu
• Yogurt
• Keju
• Buah segar
• Fish stick
• Chicken nugget

Membuat Camilan Jadi Menarik
Meminta si balita menghabiskan makanan yang Anda sediakan, kadang bukan pekerjaan mudah. Agar mereka tertarik menghabiskan camilannya, bisa Anda coba beberapa cara berikut:

• Libatkan Si Kecil
Balita Anda biasanya senang bila dilibatkan atau diminta membantu. Ajaklah mereka menyiapkan camilannya sendiri. Biasanya mereka akan bersemangat mencoba dan menghabiskan makanannya. Minta mereka mencuci buah yang akan dimakan, mengoleskan margarin ke roti, menyusun biskuit di piring, mengaduk campuran sereal dan susu, dll.
• Celupkan ke saus/ selai
Buat anak-anak, kegiatan mencelupkan makanan ke dalam saus atau selai lalu memakannya, sama menariknya seperti mencelupkan kuas dalam cat lalu mengoleskannya di atas kertas. Minta mereka mencelupkan potongan buah segar dalam yoghurt, atau buat wafel berukuran kecil-kecil untuk dicelupkan dalam selai. Pasti seru!
• Porsi kecil
Untuk lambungnya yang relatif kecil, siapkan porsi yang sesuai. Lagipula, porsi yang terlalu besar justru akan membuatnya malas, bahkan sebelum memulai. Biasanya porsi untuk balita hanya seperempat atau setengah porsi orang dewasa.

Posted by Rarry

Sabtu, 05 Februari 2005

Separation Anxiety

Ciri2 : Ngintil terus, nangis saat ortu nggak kelihatan, takut pada orang asing, bangun malem2 dan nangis pengen deket ortu, langsung diem tiap ortu deket/meluk.

Berpikirlah positif ! Separation anxiety merupakan hal yang sangat normal yang terjadi pada anak umur 7-18 bulan. Ini menandakan bahwa ikatan dan cinta yang kita berikan selama ini, diterima baik oleh bayi. Ini juga merupakan tanda bahwa bayi mulai pintar, dengan menyadari bahwa dia memiliki kebutuhan2 dan belum mampu untuk memenuhinya sendiri.

Cara mengatasi :
• Minimalkan kemungkinan berpisah
• Main ciluk ba atau sembunyikan barang, merupakan cara yang baik mengajarkan bayi untuk memahami bahwa sesuatu yang tidak kelihatan bukan berarti menghilang selamanya.
• Latihan untuk berpisah secara cepat. Sepanjang hari coba tinggal bayi selama beberapa saat, misalnya pergi ke ruangan lain. Ini akan mengajarkan bayi bahwa ‘mama pergi pasti kembali’. Selain itu membiarkan bayi bermain sendiri juga baik untuk membantu kreativitas dan kemandirian.
• Saat harus meninggalkan bayi, jangan kabur saat dia nggak liat, karena ini akan menimbulkan ketakutan yang lebih besar dan akhirnya si bayi akan ngintiiiil terus.
• Jangan buru2 berpisah, tapi juga jangan kelamaan. Bayi dapat merasakan kegelisahan kita, karena itu bantulah dia berpisah dengan cara yang lugas dan tenang. Kalau kita sendiri berpisah dengan deraian air mata, di jamin si bayi pasti akan lebih sedih lagi. Berpisahlah dengan senyum !
• Tinggalkan bayi dengan orang yang familiar buat dia dan kita percaya.
• Alihkan perhatian bayi
• Jika bayi mulai mobile, dan kadang pergi meninggalkan kita, biarkan dia bereksplorasi, tentunya kita tetap mengintip atau mendengarkan untuk memastikan dia aman.

Posted by Fanny Hartanti Cleymans

Jumat, 04 Februari 2005

Deman & Konstipasi

Demam
- mandi air hangat
- banyak kasih cairan spt aer putih atau susu atau juice atau sup
- chamomile bagus jg buat nurunin panas
- light clothing
- jaga suhu ruangan tetep sejuk
- kalau nggak dimandiin, dilap2 aja
- ajak jalan2 keluar di udara sejuk

Konstipasi

- makanan yang mungkin menyebabkan konstipasi: pisang, bubur susu, biskuit, applesauce, kedelai dan keju
- makanan yang membuat pup lebih lunak: peach,plum, prune,apricot,pear, apple juice, air, ASI

Cara meringankan konstipasi:
- mandikan bayi dg air anget
- pijet alus perut bayi (pake myk telon)
- buat bayi 'olah raga' dh nekuk kakinya ke perut
- pijat duburnya dengan diaper ointment atau baby oil untuk merangsang pup sekaligus supaya kalau pup nya keras, duburnya gak sakit.


Posted by Fanny, disadur dari buku Gentle Baby Care, E. Pantley

Stranger Anxiety

Stranger anxiety biasanya muncul pada umur 6 bulan ke atas dan bisa ‘bertahan’ sampai anak berumur 3 tahun. Biasanya, memuncak pada umur 1-1.5 tahun, kemudian mulai memudar.

Cara mengatasi :
• Saat mengenalkan anak dengan orang baru atau lingkungan baru, dekap bayi untuk membantu dia merasa aman
• Hormati perasaan bayi, jangan paksa dia untuk langsung berinteraksi dengan orang lain atau menyerahkan dia untuk digendong mereka. Paksaan akan menimbulkan ketakutan yang semakin besar dan trauma.
• Beri pengertian pada orang lain, bahwa bayi kita butuh waktu untuk merasa familiar. Kadang kala, ini justru yang paling susah, terutama jika mereka termasuk kerabat dekat. Bilang saja ‘iya nih, biasa, suka jual mahal dulu, ntar juga lama2 mau kok, sabar yah…’
• Alihkan perhatian bayi dengan mengajak bermain atau melihat2 sekitar.
• Cara paling efektif adalah membiarkan bayi untuk memulai kontak. Mungkin kita bisa bilang pada orang2 lain untuk ‘nyuekin’ si bayi dulu. Percaya deh, biasanya kalau di cuekin, bayi akan semakin penasaran !
• Ingat bahwa setiap bayi lahir dengan karakteristik yang berbeda. Ada bayi yang memang ‘dari sononya’ pemalu. Sekali lagi jangan paksakan !

Posted by Fanny Hartanti Cleymans

Rabu, 02 Februari 2005

Ketika Gigi Si Kecil Tumbuh

Pola pertumbuhan gigi setiap anak berbeda – namun, ada banyak anak yang sama sekali belum memiliki gigi ketika merayakan ulang tahun pertamanya, sedangkan ada anak lain memiliki gigi yang lengkap.

Tiap bayi berbeda
Tumbuh gigi bukanlah sebuah perkembangan yang akan dialami bayi pada suatu usia tertentu, dan sekaligus. Peralihan dari gusi yang ompong ke mulut yang bergigi lengkap membutuhkan proses yang panjang, dan akan dialami anak hingga ia berusia 3 tahun.
Proses ini dimulai ketika anak masih berada di dalam kandungan. Ketika Anda hamil, si kecil mulai membentuk akar gigi (tooth buds), landasan untuk gigi bayi, yang juga kita kenal dengan nama gigi susu. Akar ini mulai merobek permukaan gusi ketika bayi berusia + 3 – 12 bulan. Anda akan segera melihat gigi pertama si kecil tumbuh – tanda yang paling nyata bahwa anak Anda tumbuh – ketika makanannya berubah menjadi makanan padat.

Urutan tumbuh gigi
Umumnya satu demi satu gigi tumbuh setiap berselang satu bulan, dan seringkali – tidak selalu – tumbuh dalam urutan sebagai berikut:
o Gigi bawah sebelah depan
o Dua gigi tengah bagian atas
o Gigi yang berada di samping gigi tengah atas (tumbuh satu per satu)
o Gigi geraham.
Gigi geraham pertama si bayi. Adalah gigi yang terlihat lebih ‘gendut’ dibandingkan dengan gigi lainnya. Gigi ini baru akan terlihat ketika anak berusia 1 tahun. Sedangkan gigi terakhir yang akan tumbuh adalah geraham kedua, posisinya paling belakang pada deretan gigi bayi, biasanya baru terlihat ketika anak memasuki usia 2 tahun.
Pada usia 3 tahun, anak seharusnya telah memiliki gigi susu lengkap sebanyak 20 gigi. Gigi ini tidak akan tanggal hingga waktunya gigi permanen tumbuh saat si kecil berusia 6 tahun.

Selalu harus rewel?
Bagi banyak orang tua dan bayi, pertumbuh gigi pertama tidak terlalu menyenangkan, dan bisa menjadi proses panjang yang menyulitkan. Gejala pertamanya – biasanya bisa berupa air liur yang berlimpah disertai sejumlah rasa sakit – kondisi ini bisa terjadi satu atau dua bulan sebelumnya. Anda mungkin saja terbangun tengah malam untuk menenangkan si kecil yang sedang menjalani proses tumbuh gigi.
Anak akan mengalami sedikit kerewelan beberapa minggu sebelum giginya menyembul dari balik gusi. Si kecil akan sering terbangun pada malam hari, menangis dan meliur. Mengapa tumbuh gigi menimbulkan gejala-gejala seperti ini? Ketika gigi si kecil tumbuh dan mendorong gusi, hal ini menyakiti gusi, membuatnya membengkak dan lebih lembut. Kondisi ini dapat membuat pipi si kecil terlihat lebih penuh dan bulat. Sensasi berlebihan yang terjadi di seputar mulut ini dapat merangsang kelenjar saiva (kenjar air liur) untuk lebih aktif berproduksi.
Bagi bayi yang beruntung, pertumbuhan gigi adalah perubahan di seputar mulut tanpa rasa sakit sama sekali. Setelah seminggu si kecil melatih gusinya yang tanpa gigi, minggu berikutnya akan terlihat pucuk gigi berwarna putih membayang pada permukaan gusinya.
Proses pertumbuhan gigi geraham si kecil, biasanya akan lebih membuat si kecil merasa tidak nyaman. Penjelasannya sederhana saja, gigi ini memang lebih besar, dan ‘merobek’ gusi lebih luas. Biasanya proses ini terjadi ketika si kecil berusia 2 tahun. Anak sudah dapat mengungkapkan dengan jelas apa yang dirasakannya. Karena itu, rasa sakitnya lebih terungkap. Namun, gigi geraham terakhir juga dapat tumbuh tanpa adanya gejala yang menandainya
Sekalipun banyak orang tua mengatakan bahwa anaknya mengalami demam, mencret, atau pilek saat giginya tumbuh, para ahli tidak mengakui hal itu secara nyata. Mereka bahkan memiliki beberapa pandangan yang berbeda. William Sears, seorang dokter anak yang menulis The Baby Book, meyakini bahwa proses tumbuh gigi ada hubungannya dengan diare dan ruam popok ringan yang dialami anak, karena sat itu produksi saliva (air liur) terjadi secara berlebihan, dan hal ini bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Sedangkan pembengkakan gusi, dapat memicu demam ringan.
Ahli perkembangan anak lainnya, yaitu Penelope Leach, mengatakan bahwa tumbuhnya gigi pada anak tidak menyebabkan demam, diare, muntah atau kehilangan selera makan. Semua gejala ini menandakan adanya gangguan kesehatan lain yang harus diselidiki. T. Berry Brazelton, seorang ahli kesehatan anak mengatakan bahwa semua gejala itu, adalah tanda infeksi yang tidak berhubungan dengan proses pertumbuhan gigi. Tetapi stres yang berhubungan dengan pertumbuhan gigi dapat menyebabkan bayi menjadi lebih rentan mengalami serangan infeksi, tepat sebelum gigi tumbuh.
Satu-satunya hal yang disetujui oleh pada ahli itu adalah Anda sebaiknya segera menghubungi dokter si kecil jika demam yang dialami telah melewati 38˚C. Jika si kecil mengalami mencret – tetapi bukan diare, jangan cemas. Kondisi ini akan berlalu dengan sendirinya.

Menangani si kecil yang rewel
Demi meringankan ‘penderitaan’ si kecil yang mulai sering menggigit (tapi bukan karena marah). Anda dapat memberikan benda-benda yang bisa digigitnya, atau menggosok-gosok gusinya, untuk sedikit meredakan rasa sakit.
Tawarkan kepadanya teething ring (gelang gigit) yang terbuat dari karet atau kain bersih yang telah dicelupkan ke dalam air dingin untuk dikunyahnya. Roti bakar, sepotong apel atau biskuit yang telah didinginkan, adalah materi yang baik untuk tawarkan pada si kecil yang sedang menjalani proses tumbuh gigi. Tidak hanya karena benda-benda itu dapat menyejukkan gusi, tetapi mengunyah adalah latihan yang baik bagi perkembangan rahang si kecil. Ia juga bisa mendapatkan pertolongan dengan makan makanan dingin seperti saus apel atau yogurt.
Jika si kecil terlihat sangat tidak nyaman, Anda dapat memberikan analgesik khusus untuk gusi si kecil. Jenis obat ini aman digunakan oleh anak, Beberapa ahli kesehatan anak merekomendasikan bahwa anak batita yang sedang tumbuh gigi dapat diberikan penghilang rasa sakit, misalnya Tylenol untuk anak dalam dosis rendah.
Tetapi jika si kecil berusia lebih muda dari pada 2 tahun dan ketika tumbuh gigi mengalami demam lebih tinggi dari 38˚C, segera periksakan ke dokter, untuk memastikan bahwa gejala-gejala yang tampak ini ada hubungannya atau tidak dengan gangguan kesehatan lain yang lebih serius. Anak mungkin saja mengalami infeksi telinga atau gangguan kesehatan lainnya saat yang bersamaan dengan proses tumbuh gigi.
Anak bisa saja memiliki ruam pada dagu dan bibir bagian bawah, karena ia mengeluarkan air liur. Kondisi kulit di sekitar dagu dan bibir bawah yang selalu basah ini dapat menyebabkan iritasi, terlebih lagi pada malam hari, ketika anak mengusap-ngusap wajahnya saat tidur. Bersihkan air liur itu dengan kapas lembut, tetapi jangan diusap lalu ulaskan vaselin di dagunya sebelum ia tertidur atau sebelum waktu tidur demi melindungi kulit dari iritasi yang berlebihan.

Apa yang akan terjadi kemudian?
Gigi bayi, yang juga disebut sebagai gigi susu, tidak akan tanggang hingga gigi permanennya siap untuk tumbuh. Biasanya terjadi pada usia sekitar 6 tahun.

Peran Anda
Anda tidak dapat melakukan apapun untuk mempercepat proses pertumbuhan gigi, tetapi Anda dapat menenangkan si kecil ketika ia merasa tidak nyaman pada proses awal terjadinya pertumbuhan gigi.
Setelah gigi si kecil tumbuh, Anda harus selalu memastikannya bersih. Pada tahun pertama, Anda tak perlu membersihkan giginya dengan sikat. Tetapi jangan lupa membersihkannya sehari sekali, sangat baik jika hal ini dilakukan sebagai rutinitas menjelang ridur. Anak biasanya tidak terlalu suka giginya disikat pada saat ini, karena itu bersihkan gusi dan giginya dengan kain berserat. Anda juga sebaiknya tidak membiarkan bayi tidur sambil minum susu dari botolnya. Susu formula, begitu juga ASI dapat tertinggal di mulut bayi sepanjang malam dan akan menyebabkan sebuah gangguan yang dikenal sebagai baby-bottle tooth decay (kerusakan gigi bayi karena botol susu).
Pemeriksaan rutin pada bulan ke-6 adalah saat yang baik bagi Anda untuk bertanya pada dokter si kecil apakah bayi Anda membutuhkan flouride tambahan atau tidak (tetesan antilubang gigi ini hanya diperlukan jika Anda tinggal di daerah yang air minumnya tidak diperkaya dengan flouride). Anda juga dapat meminta dokter untuk memeriksa gigi si kecil. Jika giginya sehat, maka Anda tak perlu mengajaknya ke dokter gigi, hingga ia berusia 3 tahun.
Sekitar usia 18 bulan, anak sudah siap untuk belajar menyikat giginya. Mulanya, tentu saja Anda harus melakukan hal ini untuknya, karena mereka belum terampil juga belum tahu gerakan yang baik untuk menyikat seluruh gigi. Gunakan sikat yang lembut dengan sedikit pasta gigi. Anda tidak perlu langsung menyikat ke arah tertentu, tetapi sebaiknya memastikan bahwa sisa-sisa makanan yang menempel di gigi si kecil bersih. Jika anak tidak menyukai rasa pasta gigi, cobalah menggantinya dengan merk lain atau malah jangan beri pasta gigi sama sekali. Anda tidak perlu menggunakan pasta gigi, tetapi Anda sangat membutuhkannya jika menu harian si kecil mengandung banyak gula – yang sebaiknya segera dihindari. Jika anak mengkonsumsi gula secara berlebihan, saat menghadiri pesta ulang tahun misalnya, pastikan segera menyikat giginya ketika sampai di rumah. Saat ia berusia 3 tahun, maka inilah saat yang tepat mengajaknya bertemu dengan dokter gigi anak.

Kapan sebaiknya waspada?
Bayi yang lahir prematur/ lebih dini, memiliki kemungkinan terlambat tumbuh gigi beberapa bulan. Jika pada usia 1 tahun gigi si kecil belum juga tumbuh, pertanyakanlah hal ini pada dokter anak saat Anda melakukan pemeriksaan di bulan ke-12. Jika bayi Anda telah menunjukkan gejala-gejala pertumbuhan gigi – air liurnya banyak, gusi membengkak – tetapi juga menunjukkan banyak sekali gejala lain, dan rasa sakit (menangis, adalah gejala yang tak bisa diabaikan), beritahu segera dokternya. Pertumbuhan gigi seharusnya tidak merupakan siksaan bagi bayi.

Posted by Rarry

Kolik

DEFINISI
Kolik adalah suatu gejala kompleks pada bayi yang ditandai dengan menangis
kuat dan keras, nyeri perut yang jelas dan rewel.

PENYEBAB
Kolik sering terjadi, ditemukan pada 1 diantara 10 bayi. Lebih sering
terjadi pada anak pertama.
Kolik seringkali mulai timbul dalam waktu 10 hari sampai 3 minggu setelah
bayi lahir, dan berlangsung sampai bayi berusia 3-4 bulan dimana biasanya
kolik akan menghilang dengan sendirinya.

Meskipun nyeri perutnya jelas, bayi yang mengalami kolik tetap mau makan dan
berat badannya bertambah.
Episode menangis cenderung terjadi pada saat yang sama setiap harinya,
tetapi sebagian kecil bayi menangis seharian.

Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi beberapa faktor berikut diduga
berperan dalam terjadinya kolik:
Menelan udara selama menangis, makan atau mengisap jari
Pemberian makan yang berlebihan (baik berupa ASI maupun susu formula)
Ketegangan dalam keluarga dan kecemasan pada orang tua
Alergi usus terhadap susu
Refluks esofageal.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kolik mungkin berhubungan dengan
refluks esofagitis, yaitu suatu keadaan yang terjadi jika kerongkongan
mengalami iritasi karena asam dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan.

GEJALA
Gejalanya berupa:
Bayi tiba-tiba menangis keras dan sering terjadi pada waktu yang sama setiap
harinya. Episode menangis bisa berlangsung selama beberapa menit sampai
beberapa jam.
Nyeri perut yang jelas terlihat dari posisi bayi yang menarik lututnya ke
arah perut.
Rewel.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Jika diduga penyebabnya adalah refluks esofageal, maka dilakukan pemeriksaan
untuk mengukur jumlah asam yang mengalami refluks dari lambung ke
kerongkongan.

PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi kolik, tetapi tindakan berikut
bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri dan menenangkan bayi:
- Gendong bayi dengan posisi kepala dalam keadaan tegak atau baringkan bayi
dengan posisi kepala lebih tinggi dari bagian tubuh lainnya. Bayi yang aktif
boleh dibedong.
- Jika menyusu melalui botol hanya berlangsung kurang dari 20 menit, mungkin
lubangnya terlalu besar. Sebaiknya dot diganti dengan dot yang memiliki
lubang lebih kecil.
- Jika setelah selesai menyusu bayi tampak masih ingin menghisap, bisa
diberikan kempeng.
- Jangan terlalu banyak memberikan susu atau jangan menyusui terlalu cepat.
- Berikan kehangatan pada perut bayi melalui botol berisi air panas yang
dibungkus dengan kain yang lembut.
- Mengayun-ayun, menggendong atau menepuk-nepuk bayi bisa membantu
menenangkan bayi. Ada juga bayi yang menjadi tenang jika diajak jalan-jalan
naik mobil atau jika mendengarkan suara pengering rambut maupun penyedot
debu.
- Jika setelah 30 menit usaha menggendong atau menenangkan bayi tidak
berhasil, maka biarkan bayi menangis dan nanti dia akan tertidur dengan
sendirinya karena lelah. Jika setelah 15 menit bayi masih menangis, gendong
dan tenangkan kembali.

Kadang diberikan obat-obatan. Sejumlah obat-obatan telah dicoba, seperti
obat pengendur otot, antasid, anti-gas, obat penenang yang ringan dan
antihistamin; tetapi belum ada yang terbukti manjur.
Orang tua tidak boleh memberikan obat untuk kolik kepada bayi yang berumur
dibawah 6 bulan tanpa sepengetahuan dokter.

PENCEGAHAN
Kebanyakan kolik tidak dapat dicegah.
Menghindari faktor-faktor yang berhubungan dengan kolik mungkin akan
membantu. Misalnya merubah posisi bayi ketika disusui atau mengganti susu
formula (jika terdapat alergi susu sapi).
Kolik bukan akibat dari pengasuhan atau perawatan anak yang salah, jadi
sebagai orang tua, jangan merasa bersalah atau saling menyalahkan satu sama
lain.

Posted by Rarry

Selasa, 01 Februari 2005

Independent Play

Jangan merasa bersalah untuk sesekali membiarkan bayi bermain sendiri. Hal ini selain baik untuk orang tua (lumayan bisa istirahat dikit atau ngerjain kerjaan lain), juga sangat baik bagi perkembangan bayi. Bayi belajar untuk menjadi percaya diri, kreatif, sabar, mandiri, dan banyak lagi hal positif lainnya.
Yang perlu diingat adalah menyeimbangkan waktu antara bermain sendiri dan bersama.

HOW ?

• Sabar, proses ini tidak akan terjadi dalam waktu semalam
• Bermain cilukba atau tak umpet (tapi ngumpetnya jangan lama2 atau jauh), sampai dia mengerti bahwa walaupun dia tidak bisa melihat mama, tapi mama pasti kembali.
• Jangan kabur dari satu ruangan saat dia tidak melihat. Ini akan menimbulkan ketakutan, sehingga bayi akan berusaha ngintil terus.
• Bermain di lantai bersama bayi, buat dia asyik dengan mainannya. Lalu menjauhlah sedikit demi sedikit. Tapi tetap beri perhatian penuh dan kontak mata dengan bayi. Setelah beberapa lama, bayi akan membiarkan kita melakukan aktivitas lain selama kita tetap berada adalam satu ruangan.
• Ciptakan dan patuhi rutinitas harian yang mencantumkan waktu bermain sendiri. Misal, saat mama masak, atau cuci piring. Rutinitas akan membuat bayi merasa aman.
• Ciptakan waktu khusus bermain dengan bayi, dan pastikan dia mendapatkan perhatian mama 100persen. Set the timer dan bilang sama dia ‘Ok. Ayo kita main setegah jam. Tapi kalau timer berbunyi, mama harus nyiapin makan malam. ‘
• Biarkan bayi memilih mainan/cara bermainnya sendiri.
• Saat bayi mulai mau main sendiri, tetap perhatikan dia. Datangi dia dan peluk atau bicara dengan dia SEBELUM dia meminta perhatian anda. Jangan pakai sistem aji mumpung, mumpung dia lagi diem gue bisa ngapain aja. Kalau bayi keburu nangis, jangan panik. Tetap lah bersikap tenang dan santai, sehingga dia akan mengikuti sikap tenang dan santai mama. (kalau mama cengeng, yah bayinya cengeng juga, makanya jangan cengeng yah ibu2…)
• Jika bayi mulai berinisiatif bermain sendiri, biarkan
• Jangan paksa anak saat dia lagi rewel dan pengin ngintil. Ini akan mengakibatkan anak merasa helpless. Beri dia pelukan extra dan bujuk dia dengan permainan atau aktivitas menyenangkan. Begitu dia mulai asyik, mama bisa menjauh sedikit2 (tapi jangan kabur ! ! !)
• Siapkan area bermain yang aman dengan mainan yang mudah dijangkau. Tapi ingat, sekotak besar mainan bia memusingkan dia ! Lebih baik jejerkan beberapa mainan di sekeliling area bermain, supaya dia bisa memilih sendiri.
• Pastikan rumah aman dan childproof
• Ajak bayi dalam aktivitas keseharian, misal melap meja, memvacuum, dsb

Posted by Fanny Hartanti Cleymans